KRIMINAL

Rabu, 17 Juni 2015


TAWURAN ANTAR PELAJAR

Jakarta,15 juni 2015
Saat ini marak sekali tawran antar pelajar bahkan anak-anak SD mulai mengikuti tawuran. Mereka tidak tahu bahwa tawuran itu tidak ada gunanya bahkan sangat merugikan untuk dirinya. Ini menjadi tanggung jawab dari guru dan terutama orang tua yang mendampingi dan membimbing kepribadian para pelajar.

Menurut bapak Madi selaku guru dari SMP GALATIA“Penyebab maraknya tawuran di kalangan pelajar disebabkan lemahnya ilmu pengetahuan tentang agama, sehingga norma dan tindakan yang dilakukan tidak pernah dipikirkan lebih dahulu. Mereka yang ikut tawuran sebenarnya anak-anak baik, tapi karena terbawa pergaulan dari kakak-kakak seniornya sehingga mereka terpaksa mengikutinya, dikarenakan takut melawan dan takut diancam, tapi ada juga yang cuma iseng-iseng dan akhirnya terbiasa.”

Tawuran memang sangat meresahkan di kalangan masyarakat, menurut bu endang  orang tua yang anaknya sering ikut tawuran“kurangnya perhatian dari orang tua, sehingga anak tersebut merasa tidak diperhatikan dan akhirnya anak tersebut melakukan tindakan kriminal”. Kurangnya pengawasan orang membuat tingkat kejahatan termasuk tawuran di kalangan pelajar menjadi semakin marak dan sulit di kendalikan.



  _______________________________________________



STOP KEKERASAN PADA ANAK

Jakarta, 15 juni 2015
Banyaknya kasus tentang kekerasan pada anak yang di lakukan orang-orang terdekat di lingkungannya, hal ini yang membuat para orang tua khawatir terhadap keselamat anaknya. Di karenakan mereka tidak selalu mendampingi anak-anaknya beraktifitas di luar rumah seperti sekolah dan aktifitaslainnya.
Tetapi ada juga orang tua yang melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri, sehingga keselamatan anak-anak Indonesia terancam akibat dari perbuatan orang tua maupun orang-orang yang ada disekitarnya. Menurut penuturan orang tua yang memiliki anak “kekerasan terhadap anak juga dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan, dan tekanan ekonomi, yang akhirnya menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi”.
Anak-anak yang menjadi korban kekerasan menjadikan psikologi dan mental anak menjadi tertekan dan merasa trauma terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak semua orang  tua melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri, banyak orang tua yang memarahi anaknya dengan tujuan baik. Menurut pendapat Intan anak yang tidak mendapat kekerasan dari orang tua “orang tua saya tidak pernah melakukan kekerasan terhadap saya, orang tua saya hanya memarahi dengan maksud baik ”





 _______________________________________________



HATI-HATI PENCOPET DI DALAM ANGKUTAN UMUM

Jakarta, 15 juni 2015
Terjadinya pencopetan didalam angkutan umum bukan hal baru yang sering kita ketahui baik di stasiun tv maupun dimedia cetak. Dan di angkutan umum arah cengkareng tegal alur katanya sering kehilangan ponsel penumpang secara tiba-tiba. para korban tidak pernah merasa bahwa ponsel mereka jadi target pencopet. Menurut penuturan salah satu sopir yang bernama haris “didalam angkutan yang setiap hari dia gunakan, penumpang tidak pernah merasa kehilangan barang bawaannya”

Dan menurut salah satu penumpang ina ratnasari “ memang ada pencopet yang berpakaian rapi dan selalu menunggu angkot di pom bensin pintu air,  sebenarnya kita bisa mencegah tindakan kriminal berupa pencopetan atau sejenisnya di dalam angkutan umum, dengan memperhatikan barang bawaan kita, sehingga  apabila pencopet melakukan aksi kejahatan dapat kita cegah, bahkan mungkin kita bisa menangkap pelaku.”

0 komentar:

Posting Komentar

 
Jendela Berita BSI © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum