Jakarta Banjir Batu
Jakarta, 6 Juni 2015
Batu akik sedang Menjadi tren oleh
masyarakat di Tanah Air, Kegemaran ini
sudah makin menjadi-jadi, bahkan terkadang melewati batas wajar. Jika menengok
di ruas-ruas jalan saat ini penuhi oleh para penjual akik. Dari pagi sampai
langit gelap tak berhenti membahas batu dengan berbagai jenis. Orang pun rela
merogoh kocek dalam-dalam untuk menghiasi jarinya.
Berawal dari berita tentang
pemberian batu bacan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada presiden
Barack Obama, masyarakatpun tertarik untuk mengoleksi batu alam yang
disebut-sebut berasal dari fosil tumbuhan dan hewan yang tertimbun dan
mengendap selama beribu bahkan berjuta tahun lamanya .
Saat ini, demam batu akik telah
melanda masyarakat khususnya Jakarta.Para pedagang batu menjamur di pinggir
jalan dan tempat-tempat wisata, Seperti halnya Sony (55) yang berjualan batu
akik dikawasan kota tua. Batu yang dijualnya berasal dari berbagai wilayah di
Indonesia seperti Bengkulu, Garut, Palembang, Kalimantan dll. Ia menjual dalam
bentuk batu bongkahan bukan dalam bentuk cicncin.“kalau di Jakarta di Rawa
Pening, Itu pusat batu” ungkap Sony.
Sementara Nana (39) seorang yang
gemar dengan batu akik menyebutkan bahwa batu akik sendiri memiliki
keanekaragaman dan keunikan serta nilai seni yang membuatnya menjadi primadona
dikalangan pecinta batu akik. Untuk soal harga ia mengatakan tak ada
standarisasi yang tetap. “Ya, pertama dari aneka ragamnya batu akik khususnya
negara kita, dari nilai seninya kalau batu itu masalah batu akik ga ada
standarisasinya.” jelas Nana
Terlepas dari keindahanya , Demam
batu akik dan para penjual batu yang menjamur di pinggir jalan pun juga menuai
kritik. Salah seorang pengguna jalan yang kami temui bernama Tommy (21)
mengeluhkan perjalanannya terganggu oleh pedagang batu akik yang membuka lapak
di pinggir jalan. “Sebenernya merasa terganggu ya, kalau ngga teratur gini suka
nyelap-nyelip bawa motornya karena macet, suka naroh motor dan berenti
sembarangan.” Keluh tommy (21). Tommy pun berharap semoga keunikan dan ragam
pesona batu akik tidak berdampak pada kemacetan kota Jakarta.
____________________________________________________________________________
BUDAYA SEHAT DENGAN “CAR FREE DAY”
Jakarta, 14 Juni
2014
Budaya
sehat nampaknya sudah mulai disadari oleh masyakat kota Jakarta, untuk
memperingati Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day, Koalisi LSM Lingkungan sejak 23 mei 2002 menggelar acara
tersebut setiap akhir pekan dari pukul 06.00-11.00 yang bertujuan untuk
mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan ketergantungan masyarakat
terhadap kendaraan bermotor. Kegiatan ini pun sangat efektif untuk mengurangi
polusi udara di kota jakarta yang memang menjadi kota yang penuh dengan polusi
terutama dari kendaraan bermotor. Ajang ini pun banyak digemari oleh masyarakat
kota jakarta untuk berakhir pekan dengan berolah raga pagi bersama teman maupun
keluarga.
Antusiasme masyarakat pun begitu
besar, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa bahkan lanjut usia pun ikut
berpartisipasi dalam kegiatan sehat ini. Ada yang memang ingin berolah raga
namun juga ada yang hanya ingin ikut tren atau sekedar meramaikan acara
tersebut bersama teman-teman. Sepertiseorang pelajar bernama Dio (17) berasal
dari cengkareng mengaku setiap minggu selalu mengikuti acara Car Free day bersama teman-temannya
untuk sekedar lari pagi dan berolahraga. Menurutnya acara ini sangat bagus
karena dapat mengurangi polusi.“Buat lari aja, buat olahraga saya dari
cengkareng sama temen-temen.” “Bagus sih diadain kaya gini biar jakarta
mengurangi polusi.” Ungkap Dio. Bahkan ada yang menjadikan momen Car Free Day
sebagai tren remaja masa kini untuk kemudian di-Upload ke media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dll.
Sejumlah polisi pun berpatroli untuk
mengamankan acara tersebut. Salah seorang polisi yang berhasil kami wawancarai
mengatakan bahwa ajang ini sangat baik untuk diikuti oleh masyarakat sebab
masyarakat jadi terbiasa hidup sehat dengan berjalan kaki dan berolahraga pagi.
Selain itu juga, kota jakarta yang selama sepekan penuh sesak dengan kendaraan
bermotor dan polusi dimana-mana dapat dikurangi. Masyarakat kota jakarta dapat
menikmati sejuknya udara pagi tanpa polusi. Tak perlu lagi mereka jauh-jauh ke
puncak untuk berakhir pekan menikmati udara segar. Selain dapat berolahraga
pagi, masyarakat pun dapat mengikuti event-event yang diselenggarakan oleh
suatu lembaga seperti jalan sehat, joget sehat, dll.
Salah seorang polisi yang tengah
berjaga di Bundaran HI bernama I Nengah (56), turut menjaga keamanan kegiatan
tersebut. Nengah menghimbau kepada masyarakat agar menjadikan kegiatan ini
sebagai kegiatan berolahraga sebab banyak juga para pedagang kaki lima yang
ikut mengais rezeki dalam kegiatan ini. Untuk yang ingin mengadakan event-event
tertentu diharapkan terlebih dahulu mengantongi izin kegiatan, sebab banyak
yang tidak mempunyai izin. Sehingga masyarakat harus lebih hati-hati.“Apabila
kekawasan Thamrin ini pertama-tama untuk berolahraga, yang kedua barang
bawaannya diperhatikan,ketiga apabila membawa anak dibawah umur harus dijaga
dengan benar jangan sampai hilang.” Himbau Nengah selaku polisi lalu lintas
bundaran HI.
Seorang pedagang kaki lima bernama
Rujanah (50) yang tengah sibuk melayani pembeli di depan Sarinah menyebutkan pedagang
pun dapat menikmati keuntungan yang lebih dari hari biasa karena banyak
masyarakat yang lapar setelah mengikuti kegiatan tersebut. Rujanah pun
memanfaatkan acara tersebut untuk meraup untung. “ya, untungnya lumayan bisa
karena rame begini.” terang Rujanah.
____________________________________________________________________________
Sudirman Thamrin Bebas Motor
Jakarta, 7 Juni
2015
Pelarangan sepeda motor yang
melintas di jalur protokol seperti Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Medan Merdeka
Barat menuai kontroversi. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 195 tahun 2014
tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor tersebut mulai diberlakukan sejak
tanggal 17 Desember 2014 lalu. Kebijakan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok untuk
mengurangi tingkat kemacetan dan volume kendaraan bermotor di jalan protokol
tersebut.
Sejak 18 Januari 2015 lalu, sudah
diberlakukan penilangan bagi para pengguna sepeda motor yang nekat menerobos
jalur tersebut dengan denda sebesar Rp 500 ribu. Menurut Hariyanto (50),
seorang petugas polantas, peraturan ini diberlakukan untuk mengurangi angka
kecelakaan dan prioritas kendaraan roda empat sesuai dengan Pergub DKI Jakarta.
“untuk mengurangi angka kecelakaan dan prioritas bagi kendaraan roda empat.”
Terang Hariyanto. Pengguna kendaraan roda dua dihimbau untuk mematuhi peraturan
tersebut dapat memarkir kendaraan pada tempat-tempat yang telah disediakan dan
menggunakan angkutan umum gratis yang diperuntukan untuk masyarakat yang bekerja di wilayah tersebut.
Menurut seorang karyawan yang
bekerja didaerah Bundaran HI, Muhidin (44) menyebutkan bahwa dengan
diberlakukannya peraturan tersebut, pemerintah ingin memperbaiki Ketertiban
lalu lintas. Namun, banyak dari kalangan masyarakat khususnya yang setiap hari
bekerja melewati jalur tersebut yang mengeluhkan karena peraturan tersebut
menyulikan mereka untuk menuju ke kantor. Selain harus berangkat lebih pagi
karena harus mencari jalur alternatif juga jarak yang ditempuh pun jadi lebih
jauh, belum lagi jika masyarakat belum mengetahui jalur alternatif yang
dilewati karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah. “Kita mengharapkan dari
pihak pemerintah untuk bisa memberikan solusi jalan lain yang dibangun, mungkin
jalan layang atau jalan tol atau transportasi yang dimajukan seperti
pembangunan monorel.” Ujar Muhidin (44).
Seperti yang diungkapkan pula oleh
salah seorang tukang ojek, Pi’i(43) yang biasa mangkal di daerah tersebut bahwa
peraturan tersebut menuai dampak baik dan buruk. Dampak baiknya mungkin memang
mengurangi kemacetan di jalur tersebut namun dampak buruknya jalan alternatif
lain yang justru terkena imbas kemacetan dari peraturan tersebut. “ada dampak
baiknya juga ada dampak buruknya juga. Dampak baiknya memang mengurangi
kemacetan, tapi dilihat dari kenyataannya kemacetan semakin merajalela ditempat
lain.” Ungkap Pi’i(43) salah seorang tukang ojek yang beroprasi di bunderan HI.
Bahkan hal ini dinilai dapat memberikan kerugian bagi para tukang ojek karena
mengurangi penghasilan dan jalur tempuh menjadi lebih jauh. “Justru malah
mengurangi penghasilan kami karena ada angkutan umum gratis.” Lanjut Pi’i.
Karena tarif ojek yang ditetapkan dinilai cukup mahal, banyak dari masyarakat
yang lebih memilih jalan kaki atau naik kendaraan umum gratis yang disediakan
oleh pemerintah. Ia pun berharap dengan adanya peraturan tersebut tidak
mengurangi penghasilan para tukang ojek.



0 komentar:
Posting Komentar