SEPUTAR JAKARTA

Rabu, 17 Juni 2015


Jakarta Banjir Batu

Jakarta, 6 Juni 2015

            Batu akik sedang Menjadi tren oleh masyarakat di Tanah Air,  Kegemaran ini sudah makin menjadi-jadi, bahkan terkadang melewati batas wajar. Jika menengok di ruas-ruas jalan saat ini penuhi oleh para penjual akik. Dari pagi sampai langit gelap tak berhenti membahas batu dengan berbagai jenis. Orang pun rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menghiasi jarinya.
            Berawal dari berita tentang pemberian batu bacan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada presiden Barack Obama, masyarakatpun tertarik untuk mengoleksi batu alam yang disebut-sebut berasal dari fosil tumbuhan dan hewan yang tertimbun dan mengendap selama beribu bahkan berjuta tahun lamanya .
            Saat ini, demam batu akik telah melanda masyarakat khususnya Jakarta.Para pedagang batu menjamur di pinggir jalan dan tempat-tempat wisata, Seperti halnya Sony (55) yang berjualan batu akik dikawasan kota tua. Batu yang dijualnya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Bengkulu, Garut, Palembang, Kalimantan dll. Ia menjual dalam bentuk batu bongkahan bukan dalam bentuk cicncin.“kalau di Jakarta di Rawa Pening, Itu pusat batu” ungkap Sony.
            Sementara Nana (39) seorang yang gemar dengan batu akik menyebutkan bahwa batu akik sendiri memiliki keanekaragaman dan keunikan serta nilai seni yang membuatnya menjadi primadona dikalangan pecinta batu akik. Untuk soal harga ia mengatakan tak ada standarisasi yang tetap. “Ya, pertama dari aneka ragamnya batu akik khususnya negara kita, dari nilai seninya kalau batu itu masalah batu akik ga ada standarisasinya.” jelas Nana
            Terlepas dari keindahanya , Demam batu akik dan para penjual batu yang menjamur di pinggir jalan pun juga menuai kritik. Salah seorang pengguna jalan yang kami temui bernama Tommy (21) mengeluhkan perjalanannya terganggu oleh pedagang batu akik yang membuka lapak di pinggir jalan. “Sebenernya merasa terganggu ya, kalau ngga teratur gini suka nyelap-nyelip bawa motornya karena macet, suka naroh motor dan berenti sembarangan.” Keluh tommy (21). Tommy pun berharap semoga keunikan dan ragam pesona batu akik tidak berdampak pada kemacetan kota Jakarta.




____________________________________________________________________________




BUDAYA SEHAT DENGAN “CAR FREE DAY”

Jakarta, 14 Juni 2014

            Budaya sehat nampaknya sudah mulai disadari oleh masyakat kota Jakarta, untuk memperingati Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day, Koalisi LSM Lingkungan sejak 23 mei 2002 menggelar acara tersebut setiap akhir pekan dari pukul 06.00-11.00 yang bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Kegiatan ini pun sangat efektif untuk mengurangi polusi udara di kota jakarta yang memang menjadi kota yang penuh dengan polusi terutama dari kendaraan bermotor. Ajang ini pun banyak digemari oleh masyarakat kota jakarta untuk berakhir pekan dengan berolah raga pagi bersama teman maupun keluarga.
            Antusiasme masyarakat pun begitu besar, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa bahkan lanjut usia pun ikut berpartisipasi dalam kegiatan sehat ini. Ada yang memang ingin berolah raga namun juga ada yang hanya ingin ikut tren atau sekedar meramaikan acara tersebut bersama teman-teman. Sepertiseorang pelajar bernama Dio (17) berasal dari cengkareng mengaku setiap minggu selalu mengikuti acara Car Free day bersama teman-temannya untuk sekedar lari pagi dan berolahraga. Menurutnya acara ini sangat bagus karena dapat mengurangi polusi.“Buat lari aja, buat olahraga saya dari cengkareng sama temen-temen.” “Bagus sih diadain kaya gini biar jakarta mengurangi polusi.” Ungkap Dio. Bahkan ada yang menjadikan momen Car Free Day sebagai tren remaja masa kini untuk kemudian di-Upload ke media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dll.
            Sejumlah polisi pun berpatroli untuk mengamankan acara tersebut. Salah seorang polisi yang berhasil kami wawancarai mengatakan bahwa ajang ini sangat baik untuk diikuti oleh masyarakat sebab masyarakat jadi terbiasa hidup sehat dengan berjalan kaki dan berolahraga pagi. Selain itu juga, kota jakarta yang selama sepekan penuh sesak dengan kendaraan bermotor dan polusi dimana-mana dapat dikurangi. Masyarakat kota jakarta dapat menikmati sejuknya udara pagi tanpa polusi. Tak perlu lagi mereka jauh-jauh ke puncak untuk berakhir pekan menikmati udara segar. Selain dapat berolahraga pagi, masyarakat pun dapat mengikuti event-event yang diselenggarakan oleh suatu lembaga seperti jalan sehat, joget sehat, dll.
            Salah seorang polisi yang tengah berjaga di Bundaran HI bernama I Nengah (56), turut menjaga keamanan kegiatan tersebut. Nengah menghimbau kepada masyarakat agar menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan berolahraga sebab banyak juga para pedagang kaki lima yang ikut mengais rezeki dalam kegiatan ini. Untuk yang ingin mengadakan event-event tertentu diharapkan terlebih dahulu mengantongi izin kegiatan, sebab banyak yang tidak mempunyai izin. Sehingga masyarakat harus lebih hati-hati.“Apabila kekawasan Thamrin ini pertama-tama untuk berolahraga, yang kedua barang bawaannya diperhatikan,ketiga apabila membawa anak dibawah umur harus dijaga dengan benar jangan sampai hilang.” Himbau Nengah selaku polisi lalu lintas bundaran HI.
            Seorang pedagang kaki lima bernama Rujanah (50) yang tengah sibuk melayani pembeli di depan Sarinah menyebutkan pedagang pun dapat menikmati keuntungan yang lebih dari hari biasa karena banyak masyarakat yang lapar setelah mengikuti kegiatan tersebut. Rujanah pun memanfaatkan acara tersebut untuk meraup untung. “ya, untungnya lumayan bisa karena rame begini.” terang Rujanah.



____________________________________________________________________________

Sudirman Thamrin Bebas Motor
Jakarta, 7 Juni 2015

            Pelarangan sepeda motor yang melintas di jalur protokol seperti Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat menuai kontroversi. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 195 tahun 2014 tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor tersebut mulai diberlakukan sejak tanggal 17 Desember 2014 lalu. Kebijakan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok untuk mengurangi tingkat kemacetan dan volume kendaraan bermotor di jalan protokol tersebut.
            Sejak 18 Januari 2015 lalu, sudah diberlakukan penilangan bagi para pengguna sepeda motor yang nekat menerobos jalur tersebut dengan denda sebesar Rp 500 ribu. Menurut Hariyanto (50), seorang petugas polantas, peraturan ini diberlakukan untuk mengurangi angka kecelakaan dan prioritas kendaraan roda empat sesuai dengan Pergub DKI Jakarta. “untuk mengurangi angka kecelakaan dan prioritas bagi kendaraan roda empat.” Terang Hariyanto. Pengguna kendaraan roda dua dihimbau untuk mematuhi peraturan tersebut dapat memarkir kendaraan pada tempat-tempat yang telah disediakan dan menggunakan angkutan umum gratis yang diperuntukan untuk masyarakat yang  bekerja di wilayah tersebut.
            Menurut seorang karyawan yang bekerja didaerah Bundaran HI, Muhidin (44) menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya peraturan tersebut, pemerintah ingin memperbaiki Ketertiban lalu lintas. Namun, banyak dari kalangan masyarakat khususnya yang setiap hari bekerja melewati jalur tersebut yang mengeluhkan karena peraturan tersebut menyulikan mereka untuk menuju ke kantor. Selain harus berangkat lebih pagi karena harus mencari jalur alternatif juga jarak yang ditempuh pun jadi lebih jauh, belum lagi jika masyarakat belum mengetahui jalur alternatif yang dilewati karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah. “Kita mengharapkan dari pihak pemerintah untuk bisa memberikan solusi jalan lain yang dibangun, mungkin jalan layang atau jalan tol atau transportasi yang dimajukan seperti pembangunan monorel.” Ujar Muhidin (44).
            Seperti yang diungkapkan pula oleh salah seorang tukang ojek, Pi’i(43) yang biasa mangkal di daerah tersebut bahwa peraturan tersebut menuai dampak baik dan buruk. Dampak baiknya mungkin memang mengurangi kemacetan di jalur tersebut namun dampak buruknya jalan alternatif lain yang justru terkena imbas kemacetan dari peraturan tersebut. “ada dampak baiknya juga ada dampak buruknya juga. Dampak baiknya memang mengurangi kemacetan, tapi dilihat dari kenyataannya kemacetan semakin merajalela ditempat lain.” Ungkap Pi’i(43) salah seorang tukang ojek yang beroprasi di bunderan HI. Bahkan hal ini dinilai dapat memberikan kerugian bagi para tukang ojek karena mengurangi penghasilan dan jalur tempuh menjadi lebih jauh. “Justru malah mengurangi penghasilan kami karena ada angkutan umum gratis.” Lanjut Pi’i. Karena tarif ojek yang ditetapkan dinilai cukup mahal, banyak dari masyarakat yang lebih memilih jalan kaki atau naik kendaraan umum gratis yang disediakan oleh pemerintah. Ia pun berharap dengan adanya peraturan tersebut tidak mengurangi penghasilan para tukang ojek.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Jendela Berita BSI © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum